Enam Megatren yang Mendorong Perubahan Gizi dan Pola Makan di Asia
- Urbanisasi menjadi salah satu penyebab rendahnya nutrisi di seluruh Asia
- Asupan kalori harian per kapita meningkat menjadi 3.060 dan 2.700 di Asia Timur dan Selatan pada 2015, disebabkan meningkatnya impor makanan dan ledakan di industri makanan olahan Asia
- 90% pasokan global beras masih dikonsumsi di Asia, konsumsi gandum juga meningkat menjadi 23,4 juta ton pada 2016–2017
- Pertumbuhan ekonomi tidak berdampak positif terhadap tingkat nutrisi-Di Asia Selatan, prevalensi orang dewasa yang kekurangan berat hampir tidak berkurang meskipun kinerja ekonomi membaik
- Kurangnya kualitas kesadaran gizi tercatat di Asia selain ketidaksetaraan struktural gender
-
Iklan makanan yang tumbuh di Asia dan media sosial berkontribusi pada pola konsumsi
June 3, 2019: Cargill bersama dengan Economist Intelligence Unit (EIU) merilis laporan berjudul '‘Food for Thought-Eating Better’, merupakan laporan terakhir dalam seri penelitian lima bagian. Laporan ini menyoroti dua sisi dari perkembangan gizi di Asia, melalui penelitian perubahan diet di seluruh wilayah dan merangkumnya dalam enam megatren, yakni Quality not Quantity (Kualitas bukan Kuantitas), Urbanisation and Income (Urbanisasi dan Pendapatan), Obesity & Micro Nutrients (Obesitas dan Nutrisi Mikro), Diverging Outcomes (Hasil yang Menyimpang), Low Nutritional Awareness (Kesadaran Gizi yang Rendah), dan Advertising and Social Media (Iklan dan Sosial Media).
Kualitas bukan Kuantitas: Kebutuhan untuk beralih dari makanan 'lebih' menjadi makanan 'lebih baik' akan menjadi prinsip untuk beberapa tahun mendatang. Peningkatan dalam pendapatan per kapita dan grafik asupan kalori menunjukkan pertumbuhan signifikan dalam jumlah makanan yang dikonsumsi, dengan sebagian besar negara mengonsumsi lebih dari 2.500 kalori per kapita setiap hari.
Akibatnya, pertumbuhan asupan kalori cenderung moderat, komposisi diet mengalami perubahan dengan cepat dengan meningkatnya konsumsi protein, terutama daging dan ikan. Di sisi lain, sektor makanan kemasan Asia juga telah mengalami pertumbuhan 4% pada 2017, sekaligus menyoroti peningkatan konsumsi makanan olahan dan tidak meninggalkan persyaratan kebutuhan gizi konsumen.
Urbanisasi dan kenaikan pendapatan menyebabkan perubahan nutrisi yang signifikan: Peningkatan cepat jumlah masyarakat yang pindah ke daerah perkotaan dan kenaikan pendapatan di antara konsumen, telah menghasilkan peningkatan belanja konsumen, terutama untuk makanan. Urbanisasi dan pertumbuhan pendapatan mendorong perubahan gizi menciptakan ekonomi skala yang cukup, mendorong pertumbuhan gerai makanan cepat saji dan supermarket. Hal ini juga diyakini mendorong gaya hidup masyarakat menjadi kurang bergerak dan mengonsumsi makanan yang lebih enak.
Obesitas dan mikronutrien: Terjadi peningkatan kasus obesitas pada masyarakat di sejumlah negara Asia, seperti Indonesia, Malaysia, Thailand dan Pakistan pada hari ini, dikarenakan meningkatnya konsumsi minuman manis dan makanan olahan. Di sisi lain, urbanisasi ternyata memiliki korelasi langsung dengan obesitas. Pasalnya selama migrasi ke kota, diet cenderung tidak lagi dilakukan, sekaligus mengonfirmasikan terjadinya perubahan nutrisi ketika pindah ke daerah perkotaan.
Masyarakat di negara kurang berkembang dengan Gross National Income (GNI) per kapita yang lebih rendah, malah lebih rentan terhadap konsekuensi kesehatan negatif dari urbanisasi. Sementara asupan kalori meningkat, kualitas makanan tidak. Hal ini menyebabkan defisiensi mikronutrien atau “kelaparan tersembunyi” - orang-orang kelebihan berat badan atau terlihat sehat tetapi kehilangan nutrisi penting, menciptakan salah satu tren yang lebih mengkhawatirkan di wilayah ini.
Status Gizi yang menyimpang: Perkembangan gizi yang tidak merata berasal dari meningkatnya ketidaksetaraan di Asia. Meskipun terdapat pertumbuhan PDB yang signifikan di kawasan ini, kekurangan gizi masih menjadi keprihatinan yang signifikan di Asia, bahkan ketika obesitas tumbuh. Tingkat pendidikan dan melek huruf yang lebih rendah di kalangan ibu juga memengaruhi status gizi. Tingkat kemiskinan juga sangat rentan terhadap status gizi yang berlebihan, bisa dilihat dari kelebihan berat badan dan obesitas yang meningkat di antara segmen masyarakat miskin dan tinggal di perkotaan.
Kesadaran gizi yang rendah- Kesadaran tentang kekurangan gizi dan kelebihan gizi pada sejumlah negara dan tingkat pendapatan ternyata relatif rendah di wilayah tersebut. Itulah sebabnya ada kebutuhan meningkatkan kesadaran konsumen secara menyeluruh. Khususnya di kalangan ibu, karena ibu adalah sumber nutrisi pertama untuk anak selama "seribu hari pertama" kehidupan. Orang dewasa juga perlu dididik lebih baik tentang bahayanya obesogenic food dan pentingnya berolahraga.
Media Sosial & Periklanan membentuk tren makanan: Intensitas iklan makanan di Asia yang sedang meningkat, cenderung dihambat regulator yang semakin banyak menerbitkan regulasi. Pemerintah sejumlah negara seperti, Taiwan, Singapura dan Korea Selatan telah membatasi dan menahan beberapa jenis iklan. Berdasarkan negara, Singapura dan Filipina mengalami peningkatkan terbesar dalam mengadopsi pelabelan GDA sejak 2012, sementara Malaysia dan Thailand di empat besar untuk tingkat adopsi.
Tidak diragukan lagi, media sosial akan menjadi komunikasi utama antara konsumen dan pemangku kepentingan dalam industri makanan. Selain itu, menjadi saluran utama untuk periklanan dan meningkatkan keterlibatan konsumen. Keunggulan media sosial memberikan peluang bagi perusahaan industri makanan, sekaligus memacu upaya memantau dan mengatur konsumen melalui wahana ini.
Peluang bagi pemangku kepentingan mengatasi tren di atas masih tetap ada. Fortifikasi dan reformulasi makanan bisa menjadi alat yang ampuh untuk mengatasi kekurangan gizi, sebagai cara yang efisien dan hemat biaya untuk mengurangi bahan obesogenic. Memerlukan lebih banyak fokus kebijakan pada makanan dengan harga terjangkau dan berkualitas di lingkungan perkotaan. Itulah sebabnya untuk memenuhi kebutuhan nutrisi yang baik, perlu didorong dengan mengaktifkan sistem pangan dan tidak cukup dengan satu kebijakan saja.
Memerlukan kebijakan tentang kesehatan dan gizi yang bervariasi, mulai dari advokasi dan tindakan bersama yang memiliki dampa lebih besar, daripada mengandalkan efek menetes ke bawah dari pertumbuhan ekonomi. Oleh sebab itu, dibutuhkan kebijakan dan program untuk membantu mengatasi hal ini secara efektif. Kesimpulannya, upaya memperkenalkan hal paling mendasar dari kesehatan manusia, seperti nutrisi dan kebersihan harus menjadi prioritas.
Jika ingin membaca hasil lengkap penelitian, Anda akan menemukannya di sini, tautan.
Media Contact: media@cargill.com
Tentang Penelitian:
Pada Oktober 2017 EIU melakukan survei tentang sistem pangan Asia, yang ditugaskan oleh Cargill. 400 orang yang menjadi responden adalah pemimpin bisnis di industri makanan Asia, berasal dari China, India, Indonesia, Malaysia, Filipina, Singapura, dan Thailand. Penelitian ini dilengkapi dengan penelitian utama, termasuk wawancara dengan empat pakar regional.
Tentang The Economist Intelligence Unit
Economist Intelligence Unit adalah pemimpin dunia dalam intelijen bisnis global. Ini adalah unit the bisnis dari The Economist Group, yang menerbitkan surat kabar The Economist. Economist Intelligence Unit membantu para eksekutif membuat keputusan lebih baik dengan memberikan analisis tepat waktu, andal, dan tidak memihak terhadap tren pasar dunia dan strategi bisnis. Informasi lebih lanjut dapat ditemukan di www.eiu.com atau www.twitter.com/theeiu
Tentang Cargill:
155.000 karyawan Cargill di 70 negara bekerja tanpa henti untuk mencapai tujuan kami memelihara dunia dengan cara yang aman, bertanggung jawab, dan berkelanjutan. Setiap hari, kami menghubungkan petani dengan pasar, pelanggan dengan bahan-bahan, dan masyarakat dan hewan dengan makanan yang mereka butuhkan untuk berkembang.
Cargill menggabungkan 153 tahun pengalaman dengan teknologi dan wawasan baru untuk melayani sebagai mitra tepercaya untuk pelanggan pangan, pertanian, keuangan, dan industri di lebih dari 125 negara. Secara berdampingan, Cargill sedang membangun masa depan pertanian yang lebih kuat dan berkelanjutan. Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi cargill.com dan Pusat Berita Cargill.
Tentang Cargill di Indonesia:
Cargill memulai usahanya di Indonesia pada tahun 1974 dengan mendirikan pabrik pakan di Bogor, Jawa Barat. Saat ini Cargill – yang berkantor pusat di Jakarta – memiliki lebih dari 19.000 karyawan. Kami ada di 60 lokasi dengan kantor-kantor, pusat produksi dan fasilitas di seluruh Indonesia. Aktivitas-aktivitas usaha terdiri dari nutrisi hewan, kakao, biji-bijian dan biji penghasil minyak, kelapa sawit, kopra, rumput laut dan minyak-minyak khusus. Cargill adalah warga korporat Indonesia yang bertanggung jawab, dan program-program lokalnya membantu perkembangan pembangunan yang bertanggungjawab dan berkelanjutan, membantu melindungi lingkungan dan menjaga warga dan berbagai kemungkinan yang ada dalam masyarakat-masyarakat lokal. Untuk informasi lebih jauh kunjungi http://www.cargill.co.id