Pertumbuhan Populasi, Urbanisasi dan Melambungnya Kebutuhan Pangan, Sementara Stok Pangan Kian Terbatas akan Pengaruhi Pasokan Pangan Masa Depan di Asia
Hasil penelitian Economist Intelligence Unit (EIU) yang disponsori oleh Cargill perlihatkan enam megatren yang dapat memengaruhi rantai pasokan makanan
(Jakarta) 9 Mei 2019 - Asia, yang diperkirakan menjadi rumah bagi 4,9 miliar orang pada tahun 2030, akan mengalami peningkatan konsumsi pangan lebih dari dua kali lipat per kapita dalam 12 tahun mendatang. Sementara itu, populasi di Asia yang semakin bertambah dipengaruhi oleh urbanisasi yang kian tinggi di negara-negara berkembang di Asia, dan hal ini merupakan tren yang berkontribusi mengurangi pasokan pangan domestik.
Berikut ini beberapa tren utama menurut penelitian yang dikeluarkan oleh The Economist Intelligence Unit. Berjudul "From Farm to Fork", penelitian yang disponsori oleh Cargill menunjukkan bahwa terdapat enam megatren yang dapat memengaruhi kelangsungan rantai pasokan pangan, termasuk urbanisasi, demografi populasi penduduk desa yang menua, kelangkaan sumber daya pangan, integrasi rantai pasokan, ritel modern, stok pangan yang terbuang sebelum sampai ke tangan konsumen (food loss) dan sampah makanan (food waste).
Di Indonesia, urbanisasi diperkirakan semakin cepat. Pada 2010, setengah dari total populasi tinggal di kota, bahkan menurut Bank Dunia, 68% populasi akan tinggal di kota pada 2025. Urbanisasi menjadikan pola makan masyarakat makin beragam dan butuh sumber daya pangan lebih besar, terutama ketika mengkonsumsi daging. Sementara itu, perekonomian Indonesia semakin jauh bergeser dari ekonomi agraria karena lapangan pekerjaan pedesaan makin tergeser oleh perkotaan.
Penyediaan infrastruktur yang memadai juga merupakan tantangan bagi rantai pasokan pangan di Indonesia. Berdasarkan hasil studi EIU, infrastruktur yang kurang memadai menyulitkan distribusi dan penyimpanan stok pangan sehingga memicu biaya lebih besar sekaligus memperbesar jumlah stok pangan yang terbuang sebelum sampai ke tangan konsumen (food loss) maupun sampah makanan (food waste). Di Indonesia, sebagai contoh, terdapat perbedaan harga yang cukup signifikan antara daerah penghasil beras dan daerah yang membutuhkan beras karena infrastruktur yang kurang memadai, keamanan distribusi stok pangan dan topografi. Para pakar mencatat bahwa aktivitas perdagangan dan distribusi pangan dari daerah menjadi tidak efisien jika jaringan transportasi dan kapasitas pelabuhan tidak memadai serta ketiadaan fasilitas penyimpanan.
Megatren lain yang diungkapkan dalam penelitian ini meliputi:
Kelangkaan Sumber Daya Pangan - Produksi dalam negeri akan dipengaruhi terutama oleh kelangkaan sumber daya pangan dan isu keberlanjutan pangan. Hal ini diprediksi menjadi lebih buruk dalam jangka panjang karena perubahan iklim.
a. Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia (FAO) - Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memprediksikan bahwa 40% lahan di negara-negara ASEAN akan terus mengalami degradasi yang semakin parah.
b. Persaingan untuk mendapatkan air juga akan semakin meningkat karena pertumbuhan urbanisasi, dan 40% penduduk Asia akan mengalami krisis air parah pada tahun 2030, dan hal ini diprediksi menjadi lebih parah dengan adanya perubahan iklim.
c. Saat ini sektor pertanian adalah pengguna utama pasokan air, namun pada tahun 2030, Asia akan membutuhkan 65% lebih banyak air untuk keperluan industri, dan 30% lebih banyak untuk penggunaan domestik.
Integrasi Rantai Pasokan - Banyak petani plasma menghadapi tantangan dalam integrasi rantai pasokan. Sementara itu, pergeseran geopolitik mendorong integrasi regional dan memberi dampak terhadap integrasi global.
a. Kemampuan mengintegrasikan berbagai tahapan rantai pasokan berarti meningkatkan kemampuan menelusuri dan melacak kualitas pangan.
b. Para petani plasma dapat bekerja sama dengan perusahaan besar, namun mereka akan kesulitan memenuhi standar kualitas yang diinginkan konsumen dan perusahaan agribisnis besar.
c. Ritel modern (termasuk integrasi vertikal) seperti pasar swalayan menginginkan pangan berkualitas tinggi dalam jumlah besar yang dapat mengakibatkan rantai pasokan pangan akan menjadi lebih pendek dan lebih bersifat regional.
Ritel Modern - Ritel modern dan online menjadi semakin lazim dan berfokus pada keamanan/keberlanjutan pangan.
a. Rata-rata konsumen di Asia memiliki lebih banyak uang dan preferensi makanan yang cepat berubah, sehingga pasar swalayan harus memenuhi permintaan konsumen yang cepat berubah serta menyediakan produk makanan yang aman dan berkualitas tinggi dengan harga bersaing.
b. E-commerce dapat mengubah ulang rantai pangan dengan memperpanjang rantai pangan secara fisik tetapi memangkas jumlah pemain dalam rantai tersebut.
c. Biro Statistik Nasional melaporkan bahwa penjualan online di Tiongkok tumbuh mencapai RMB 3,88 triliun pada tahun 2015.
d. 37% dari seluruh konsumen di Asia sudah berbelanja online dan 53% lainnya bersedia untuk berbelanja online.
Food loss dan Sampah Makanan – Food loss akan berubah menjadi sampah makanan, namun kesadaran akan hal ini dapat menciptakan berbagai solusi berbasis data.
a. Food loss umumnya terjadi karena teknologi yang tidak memadai, kurangnya infrastruktur dan keterampilan teknis atau adanya kesenjangan pengetahuan, serta kurangnya dukungan logistik.
b. Kehilangan makanan cenderung terjadi selama waktu panen dan pasca panen, namun negara-negara Asia yang berpenghasilan tinggi cenderung menunjukkan pola food loss (seperti Jepang, Korea Selatan dan Tiongkok) selama tahap konsumsi.
c. Food loss dan sampah makanan belum menjadi masalah sistemik, namun kesadaran akan hal tersebut semakin tinggi serta didukung oleh berbagai penelitian terkait di Jepang, Korea Selatan dan Tiongkok.
Arief Susanto, Corporate Affairs Director, Cargill Indonesia, mengatakan, “Seluruh pemangku kepentingan, termasuk sektor swasta memiliki peranan penting dalam menemukan solusi untuk menjawab tantangan rantai pasokan pangan. Kami bekerja sama dengan para petani, pemerintah, industri, pelanggan dan konsumen untuk membangun masa depan pangan yang lebih berkelanjutan. Melalui berbagai pengalaman kami yang dipadukan dengan teknologi baru serta wawasan terkini untuk menciptakan masa depan pangan yang aman, kami memenuhi kebutuhan industri pangan dan konsumen akan bahan pangan yang berkelanjutan, termasuk meningkatkan penelusuran serta transparansi rantai pasokan global.”
Untuk informasi lengkap hasil penelitian, silakan kunjungi tautan ini.
Media Contact: media@cargill.com
Tentang Cargill
Cargill berkomitmen untuk menyediakan makanan, bahan makanan, solusi pertanian, dan produk industri untuk menyehatkan dunia dengan cara yang aman, bertanggung jawab, dan berkelanjutan. Berada di jantung rantai pasokan, kami bermitra dengan petani dan pelanggan untuk menyediakan sumber, membuat, dan mengirimkan produk yang sangat penting bagi kehidupan.
Lebih dari 155 ribu karyawan kami berinovasi dengan tujuan, menyediakan kebutuhan hidup penting bagi pelanggan agar bisnis dapat tumbuh, masyarakat dapat sejahtera, dan konsumen dapat hidup sejahtera. Dengan pengalaman selama 160 tahun sebagai perusahaan keluarga, kami melihat ke depan dengan tetap berpegang teguh pada nilai-nilai kami. Kami mengutamakan karyawan. Kami meraih lebih tinggi. Kami melakukan hal yang benar—hari ini dan untuk generasi yang akan datang. Untuk informasi selengkapnya, kunjungi Cargill.com dan Pusat Berita kami.
Tentang Cargill di Indonesia
Cargill memulai usahanya di Indonesia pada tahun 1974 dengan mendirikan pabrik pakan di Bogor, Jawa Barat. Saat ini Cargill berkantor pusat di Jakarta dan memiliki lebih dari 19.000 karyawan. Kami berada di 60 lokasi yang terdiri atas kantor, pabrik dan fasilitas di seluruh Indonesia dan memiliki berbagai kegiatan usaha yang meliputi nutrisi hewan, kakao, kopra, ekspor makanan olahan, biji-bijian dan minyak nabati, minyak sawit, serta pati dan pemanis.