skip to main content
Cargill Logo
  • Beranda
  • Tentang Kami

    Tentang Kami

    • Sekilas tentang Cargill
    • Gambaran Umum Perusahaan
    • Keterlibatan Masyarakat
    • Sejarah Kami
  • Produk dan Jasa

    Produk dan Jasa

    • Pertanian
    • Nutrisi Hewan
    • BioIndustrial
    • Kakao dan Cokelat
    • Perawatan Tubuh dan Kecantikan
    • Minyak sawit
  • Karier
  • Keberlanjutan

    Keberlanjutan

    • Memberi gizi kepada dunia
    • Melindungi bumi
    • Meningkatkan kualitas hidup masyarakat
  • Berita
  • Lokasi
  • Cargill di Seluruh Dunia
  • Kontak Cargill di Indonesia

Indonesia

Bahasa Indonesia | English

Indonesia

Bahasa Indonesia | English
Beranda/ Berita /  Laporan EIU: Kelangkaan Air Dapat Berdampak pada Pertumbuhan Ekonomi Asia 
  • Berita
 

 Laporan EIU: Kelangkaan Air Dapat Berdampak pada Pertumbuhan Ekonomi Asia 

(Jakarta) 21 Maret 2019 – Bersamaan dengan peringatan Hari Air Sedunia tahun ini dengan tema Leaving no one behind, Economist Intelligence Unit (EIU), disponsori oleh Cargill, menerbitkan laporan baru yang berfokus pada air dan bagaimana industri pertanian berkorelasi dengan keadaan masa depan air di Asia. Laporan tersebut menyatakan bahwa kelangkaan air dapat berdampak pada pertumbuhan ekonomi Asia. Sebanyak 90 persen responden dari industri pangan dan pertanian di Asia setuju dengan hal ini.

Laporan berjudul Liquidity Premium adalah bagian kedua dari penelitian Fixing Asia’s Food Systems. Penelitian ini pertama kali dirilis pada September 2018 dan meneliti berbagai isu seputar sistem pangan di Asia. Program penelitian yang terdiri dari lima bagian ini dibuat berdasarkan survei terhadap 820 pemimpin industri di wilayah Asia, termasuk desk research dan wawancara dengan berbagai pakar.

Kekhawatiran tentang kelangkaan air paling akut terjadi di Indonesia dan Filipina, sebanyak 67% responden di kedua negara tersebut sangat setuju bahwa kelangkaan air dapat mempengaruhi pertumbuhan ekonomi, dibandingkan dengan 43% di Singapura, 44% di Thailand, dan 60% di India.

Berdasarkan laporan ini, Indonesia termasuk dalam sepuluh negara teratas untuk populasi yang berisiko terhadap kerawanan air karena Indonesia berada di peringkat empat dalam indeks air dan sanitasi (total populasi yang belum memiliki sanitasi) serta peringkat enam dalam indeks banjir (potensi populasi terkena banjir). Indonesia juga disebut sebagai salah satu negara yang relatif kaya air yang kini menghadapi kendala pasokan air karena manajemen pengelolaan air yang kurang baik.

“Kelangkaan air menjadi tantangan besar di Indonesia. Seperti negara lain di Asia, tantangannya adalah mengikuti permintaan akan pasokan air seiring dengan pertumbuhan populasi dan gaya hidup dalam perubahan pola makan,” kata Arief Susanto, Direktur Corporate Affairs Cargill Indonesia. “Belum lagi bencana terkait air yang terjadi di Indonesia. Oleh karena itu dibutuhkan partisipasi penuh dari semua pihak, mulai dari pemerintah, perusahaan, dan masyarakat dalam mengatasi hal ini.”

Proyeksi menunjukkan bahwa 40% negara-negara berkembang di Asia akan menghadapi masalah kekurangan air yang kritis pada tahun 2030, yang akan mengarah kepada kesenjangan permintaan dan penawaran terhadap air. Laporan tersebut mengutip beberapa masalah utama di balik hal ini: pembangunan ekonomi mendorong permintaan akan air, meningkatnya persaingan sektoral untuk kebutuhan akan air; pertanian yang menggunakan air yang terkontaminasi menimbulkan risiko kesehatan bagi ternak dan tanaman; eksploitasi berlebihan dan perubahan iklim, pengelolaan air yang kurang baik - harga air tidak mencerminkan kualitasnya, dan tidak ada insentif untuk mencapai efisiensi air; serta teknologi yang mahal.

Laporan tersebut juga menyatakan bahwa untuk mengatasi masalah kelangkaan air, negara-negara di Asia harus merevisi sistem pengelolaan air serta menyadari harga dan nilai air. Selain itu, transparansi dan kolaborasi antar negara diperlukan untuk mengelola potensi ketegangan yang dapat timbul dari kelangkaan air.

Laporan selengkapnya dapat ditemukan di sini.
 

Media Contact: media@cargill.com


Tentang Cargill

Cargill berkomitmen untuk menyediakan makanan, bahan makanan, solusi pertanian, dan produk industri untuk menyehatkan dunia dengan cara yang aman, bertanggung jawab, dan berkelanjutan. Berada di jantung rantai pasokan, kami bermitra dengan petani dan pelanggan untuk menyediakan sumber, membuat, dan mengirimkan produk yang sangat penting bagi kehidupan.

Lebih dari 155 ribu karyawan kami berinovasi dengan tujuan, menyediakan kebutuhan hidup penting bagi pelanggan agar bisnis dapat tumbuh, masyarakat dapat sejahtera, dan konsumen dapat hidup sejahtera. Dengan pengalaman selama 160 tahun sebagai perusahaan keluarga, kami melihat ke depan dengan tetap berpegang teguh pada nilai-nilai kami. Kami mengutamakan karyawan. Kami meraih lebih tinggi. Kami melakukan hal yang benar—hari ini dan untuk generasi yang akan datang. Untuk informasi selengkapnya, kunjungi Cargill.com dan Pusat Berita kami.

Tentang Cargill di Indonesia

Cargill memulai usahanya di Indonesia pada tahun 1974 dengan mendirikan pabrik pakan di Bogor, Jawa Barat. Saat ini Cargill berkantor pusat di Jakarta dan memiliki lebih dari 19.000 karyawan. Kami memiliki 59 lokasi dengan kantor-kantor, pabrik dan fasilitas di seluruh negeri dan melakukan aktivitas-aktivitas usaha yang terdiri dari nutrisi hewan, kakao, biji-bijian dan biji penghasil minyak, kelapa sawit, kopra, rumput laut dan minyak-minyak khusus. Untuk informasi lebih lanjut, silakan kunjungi http://www.cargill.co.id dan temukan komitmen kami dalam minyak sawit berkelanjutan http://www.cargill.com/sustainability/palm-oil/sustainable-palm-oil.

Kontak Cargill di Indonesia Cargill di Seluruh Dunia
Kebijakan Kerahasiaan Pemberitahuan Bisnis Syarat dan Ketentuan Pesanan Pembelian Standar
Cargill.com IRM
© 2026 Cargill, Incorporated. Hak Cipta Terdaftar.